Kapal China Pembuang Mayit Abk Wni: Ngaku Cari Tuna, Ternyata Buru Hiu

Kapal China Pembuang Mayit Abk Wni: Ngaku Cari Tuna, Ternyata Buru Hiu

Cellyn
Kamis, 07 Mei 2020


TRIBUNNEWZ.XYZ - Kapal Long Xing 629 dikabarkan melaksanakan eksploitasi dan membuang mayat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI). Kapal tersebut berjenis kapal longline, dipakai untuk mencari ikan tuna. Namun diduga, kapal ini melaksanakan penangkapan ikan ilegal (illegal fishing).
"Ini yakni perkara perdagangan insan dan kerja paksa. Ini yakni teladan pelajaran bahwa perdagangan insan sangat terkait dengan penangkapan ikan ilegal," kata advokat untuk Kepentingan Publik (APIL), JongChul Kim, dalam keterangan yang disiarkan situs Yayasan Keadilan Lingkungan (EJF), Rabu (7/5/2020).

APIL dan EJF dalah dua forum non-pemerintah yang sekarang mengadvokasi 14 ABK WNI. Para ABK kapal China itu sekarang sudah berada di Busan, Korea Selatan, menjalani karantina virus Corona.

Para ABK yang sudah mencapai Busan Korsel melaporkan acara di kapal itu. Mereka juga memberikan bukti foto dan video. Mereka memberikan adanya acara pengambilan sirip hiu dari spesies hiu yang terancam punah.

Padahal, kapal Long Xing 629 yakni kapal yang terdaftar sebagai 'kapal longline tuna'. Para ABK menyampaikan kapal itu menargetkan hiu-hiu sebagai buruan. Kapal itu memakai alat khusus untuk menangkap hiu.

Para ABK memperkirakan kapal itu dapat menangkap 20 hiu per hari. Saat para ABK hendak meninggalkan kapal itu, ada 16 boks penuh sirip hiu, setiap boks beratnya 45 kg. Biasanya, sirip-sirip hiu itu akan dipindahkan dari kapal ke kapal sampai mencapai pelabuhan untuk dijual.

China, negara asal kapal itu, memang tidak punya hukum yang melarang perburuan sirip hiu. Namun demikian, praktik perburuan sirip hiu yakni pelanggaran hukum milik tubuh regional Samudra Pasifik bab barat-tengah.

Foto yang ditunjukkan para ABK memberikan hiu-hiu itu termasuk jenis yang terancam punah, antara lain hiu martil dan hiu koboi (oceanic whitetip).

APIL dan EJF menyerukan pemeriksaan oleh otoritas China dan internasional terhadap perkara eksploitasi, pelanggaran HAM, dan penangkapan ikan ilegal ini. APIL dan EJF menilai perkara ini menjadi pengingat yang sangat penting untuk mengurus sektor masakan dari bahari (seafood). Perubahan radikal terhadap perikanan diperlukan, tak hanya demi kelangsungan ekosistem bahari tapi juga untuk orang-orang yang menggantungkan hidup dari laut.(dtk)